Kamis, 13 Desember 2012

ciuman halal


“kenapa sich ga mau ku gandeng?”. Anto sebal pada Anil yang ketika dia jalan bareng ke puncak gunung tidak mau digandeng. Anto berpikir mungkin Anil malu jalan sama dia. Anto kelihatannya sangat mencintai Anil sampai ketika mereka berdua berada dalam gua dan sandal Anil putus, Anto ingin Anil memakai sepatu yang dia pakai.
“ Klo aku pake sepatu kamu, trus kamu pake apa?” Tanya Anil pada Anto yang ketika itu menyuruh Anil untuk memakai sepatunya.
“ya, kan aku masih pake kaos kaki, jadi pake kaos aja juga bisa.”.
Anil terharu dan sungguh terkesima dengan pengorbanan Anto yang begitu besar kepadanya. Selama ini, tidak ada yang mau berkorban demi dia. Dan mata Anil pun berkaca-kaca memandang wajah Anto secara diam-diam karena  saat itu Anto sedang melihat pengunjung gua lainnya yang melewati mereka.
Sebenarnya Anil ingin sekali menerima pengorbanan Anto, tapi dia terlalu takut untuk mencintai dan jatuh cinta lagi. Tapi sepertinya apa yang dilakukan Anto berikutnya dalam perjalanan itu membuat Anil tidak bisa memungkiri perasaannya yang mulai jatuh cinta kepada Anto.
Ketika naik kepuncak gunung tersebut Anil kelelahan, maklum dia anak kota yang termasuk jarang berolahraga. Dia sebenarnya bukan malas tapi karena memang hobi dia membaca buku, sehingga kebanyakan waktunya dihabiskan dengan membaca buku dikamar. Anto yang mengulurkan tangannya untuk membantu Anil tidak dihiraukannya. Anil tetap mendaki walaupun dengan sempoyongan. Sampai pada saat dia tidak tahan lagi dan kepalanya sangat pusing berat akibat kekurangan air dan kelelahan akibat tidak terbiasa melakukan hal yang berat dan capek membuatnya menyerah dan memilih menyingkir dan duduk disebuah batu. Anto yang memahami kondisi Anil hanya tersenyum dan menawarkan agar mereka istirahat dulu.
“capek? Sini rebahan dulu”, Anto menawarkan pahanya untuk direbahi oleh wanita yang disukainya itu.
“rebahan dimana?” jawab Anil cuek.
 “ya dipahaku aza, kan empuk” jawab Anto.
“empuk dari mana badan kamu kurus gitu, yang ada sakit kayanya. Apalagi badan kamu yang terbuat dari besi itu”, Anil menjawab seenaknya tawaran Anto.
“hmmmm, dasar..”
Sebenarnya Anil menjawab seperti itu bukan karena dia menolak, tapi karena gengsi takut dikataiin cewe yang lemah dan manja. Padahal dia memang cewe yang manja karena dia anak satu-satunya dari ayah dan ibunya. Walaupun dia anak tunggal, bukan cewe yang suka menghabiskan uang dengan membeli barang atau melakukan sesuatu hal yang tidak berguna. Dia selalu melakukan hal yang dia pikir itu hal bermanfaat. Bahkan seringnya menolak ajakan teman-temannya untuk pergi bersama dia terlihat seperti tidak punya teman. Di sekolah dia lebih banyak belajar dikelas atau membaca buku diperpustakaan. Dirumah pun  setelah pulang sekolah hanya membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah atau perpustakaan keliling yang dibiayai PT. Adaro dan kontraktor-kontraktor tambang lainnya.
Anil juga selalu memanfaatkan uangnya seefisien mungkin. Kalau dia pakai barang yang dia beli itu tidak terlalu atau dia tidak membutuhkannya dia tidak akan pernah membelinya. Dia berpikir lebih baik uangnya ditabung. Padahal untuk membeli apapun dia sebenarnya tidak perlu menabung, cukup meminta pada ayah ayau ibunya maka akan dipenuhi karena keluarganya memang berkecukupan.
Tapi dia memang sangat mandiri, bahkan saaat sekarang dia kuliah pun dia tetap berpikir mencari uang untuk kebutuhan-kebutuhan pribadinya. Dan dia berprinsip, kalau bisa membeli sendiri nagapain harus minta. Karena itulah, uang yang dikirim ayahnya setiap bulan selalu masuk kerekeningnya dan dia hanya belanja dengan hasil upahnya mengajar di sebuah bimbingan belajar dan hasil menjadi guru les privat.
Kehidupan yang serba berkecukupan dan selalu membeli barang yang dia inginkan membuat dia anggap anak orang kaya yang manja, padahal untuk membeli semua keinginannya itu dia selalu menabung dan kadang sangat mengirit pengeluaran agar barang ia inginkan dapat dibeli.
Dan itu juga yang kadang membuat dia sebal sama Anto karena seberapapun dia berusaha menjelaskan tetap ia dianggap anak orang kaya manja yang kerjaannya shopping atu menghabiskan uang orang tua dan melakukan hal tidak berguna.
“bentar dulu ya, aku masih capek”, kata Anil pada Anto.
“iya tau koq, kamu ga pernah olahraga makanya ga tahan capek, kalau aku sudah terbiasa naik gini doank, kan kalau kerja jalannya gini juga, malah lebih parah daripada mendaki gini”, tutur Anto.
“hmmmmm…”, jawab Anil.
“ayo lanjut, aku sudah baikan”, ajak Anil pada Anto.
“beneran?”, Tanya Anto pada Anil untuk memastikan.
“iya” , jawab Anil.
Mereka pun kembali melanjutkan mendaki, dan setelah 10 menit memanjat, akhirnya mereka sampai dipuncak gunung.
Dari atas gunung terlihat pemandangan daerah barabai yang sangat indah. Dari sebelah timur terlihat Gunung yang menjulang dan sangat indah, mereka berdua dapat melihat sepuanya karena matahari memang sudah mengarah kebarat dan kebetulan saat itu jam 5 sore, sehingga cahaya matahari sudah agak redup. Mereka berada dipuncak sekitar 30 menit, dan selama itu banyak hal mereka lakukan, seperti berfoto dan juga ngintip orang lagi pacaran. Maklum saja, puncak gunung itu rada susah untuk didaki dan jarang ada yang mau naik, jadi tepat sekali bagi dua sejoli yang sering berbuat mesum.
Karena jengah melihat kondisi tersebut, Anil mengajak Anto turun dan mengajak pulang. Kebetulan saat itu mereka belum sholat ashar, sehingga dalam perjalanan pulang kembali kerumah, Anil dan Anto singgah disebuah mesjid. Anil kagum pada Anto yang masih ingat sholat, padahal kebanyakan laki-laki yang dia kenal selama ini biasanya malas dan sangat susah diajak sholat apalagi dalam kondisi bepergian. Dari awal kekaguman itulah, akhirnya benih cinta yang tadinya hanya berupa biji kini mulai bertunas. Dan setelah selesai sholat ashar, mereka langsung menuju pulang. Namun karena rumah mereka lumayan jauh, yaitu 2 jam maka dijalan mereka singgah lagi disebuah mesjid untuk sholat magrib dan makan.
Anil sampai dirumah setelah ba’da isya. Setelah mandi dan sholat isya ternyata Anto ngesms Anil, “kenapa kamu tidak mau ku gandeng? Malu ya jalan sama aku?”.
“ga koq, aku justru kamu yang malu kalau jalan sama aku. Tadi aku ngeliat cewek-cewek mandangin aku ga enak. Habisnya kamu ganteng sedangkan aku gendut dan jelek. Kamu aja tadi bilang klo aku gendut kaya ibu-ibu”, balas Anil.
“aku sayang kamu” kata Anto. Saat membaca sms itu Anil sangat bahagia, dan merasa ingin terbang.
“koq bisa?”, Anil ingin memastikan Anto berkata seperti itu.
“ga suka? Hak kamu” balas Anto. Anto orangnya memang dingin dan sangat memahami perempuan. Makanya ketika sms Anil bernada menyangsikan perkataannya, dia menjawab dengan seharusnya perempuan seperti Anil diperlakukan. Dengan jawaban seperti itu, Anil yang manja semakin penasaran akan pernyataan Anto.
“ngambek?”, Anil mulai melemah.
“ga” balas Anto.
“trus?”, Tanya Anil lagi.
“kenapa tadi ga mau aku cium dan kugandeng?”
Anil sebenarnya sangat menyukai Anto dan mencintainya. Bahkan ketika digoa ketika Anto ingin menciumnya dia sangat ingin menerima ciuman itu dan membalasnya. Namun Anil masih ingat bahwa apa yang akan mereka lakukan adalah dosa, sehingga Anil selalu menghindar ketika Anto ingin menciumnya.
“nanya tu lagi, kan tadi dah dijawab”, balas Anil.
“masa itu alasannya?”
“ga percaya”
“iya”, jawab Anto.
Anil akhirnya menyadari bahwa Anto takkan pernah puas dengan alibi yang ia ucapkan, akhirnya ia pun berkata jujur
“aku sebenarnya suka sama kamu, sangat senang saat kamu mau mencium aku dan aku juga ingin membalas ciuman kamu itu, tapi ingin aku pantas untukmu. Aku ingin melakukannya dengan orang yang halal bagiku. Aku ingin ciuman itu ketika aku sudah merasa sejajar dengan kamu. Karena bagiku kamu terlalu hebat, dan aku tak pantas untuk cowo sehebat kamu. Andai aku menuruti nafsuku, mungkin ciuman itu telah terjadi”.
“ Dan aku tidak mau digandeng tadi bukan karena aku malu jalan sama kamu, tapi ini karena prinsipku, ketika laki-laki seenaknya memegang atau memeluk wanita, maka wanita itu akan akan terlihat murahan dimata orang lain. Maaf”, balas Anil.

Lin,
Banjarmasin, 1 November 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar